Muslimahdaily - Kita sering mendengar atau membaca kisah-kisah luar biasa yang terjadi pada para nabi, yang kita sebut sebagai mukjizat. Namun, tahukah kamu bahwa Allah Subhanahu wa ta ala juga menganugerahkan kejadian-kejadian luar biasa kepada para hamba-Nya yang shalih? Peristiwa ini disebut karomah, dan salah satu kisah karomah paling menakjubkan di zaman sahabat terjadi pada pasukan yang dipimpin oleh Al-Ala’ bin Al-Hadhrami.
Setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, gelombang kemurtadan juga melanda Bahrain. Pemimpin mereka, al-Hutham bin Dhubai'ah, berhasil menggalang kekuatan dan mengepung kaum muslimin yang masih setia di benteng Juwatsan. Situasi kaum muslimin sangat kritis, mereka terkepung dan mulai kehabisan perbekalan.
Mendengar kabar ini, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq segera mengirimkan pasukan bantuan di bawah komando seorang sahabat yang dikenal karena keshalihan dan doanya yang mustajab, Al-Ala’ bin Al-Hadhrami. Al-Ala’ dan pasukannya pun berangkat menuju Bahrain.
Terjebak di Padang Pasir
Di tengah perjalanan, pasukan muslimin menghadapi ujian pertama. Mereka berkemah di sebuah tempat, namun karena sebuah kepanikan, unta-unta mereka melarikan diri di malam hari, membawa semua perbekalan, makanan, minuman, dan tenda. Mereka kini terdampar di tengah padang pasir tanpa bekal sama sekali. Keputusasaan mulai menyelimuti sebagian prajurit. Kematian karena kehausan dan kelaparan seolah sudah di depan mata.
Di saat genting inilah, Al-Ala’ menunjukkan kualitas kepemimpinannya yang sejati. Ia mengumpulkan pasukannya dan bertanya dengan tenang, "Wahai hadirin sekalian, bukankah kalian sedang berjuang di jalan Allah? Bukankah kalian penolong agama Allah?". Pasukan menjawab, "Ya, benar!". Al-Ala’ melanjutkan, "Demi Allah, Dia tidak akan mengabaikan orang dalam keadaan seperti ini".
Setelah menenangkan pasukannya, Al-Ala’ memimpin mereka untuk melaksanakan shalat Subuh. Selesai shalat, ia berlutut, mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, dan berdoa bersama seluruh pasukannya dengan khusyuk. Mereka memohon pertolongan kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Belum lama mereka berdoa, sebuah keajaiban terjadi. Tiba-tiba, dari kejauhan mereka melihat fatamorgana. Ketika mereka mendekat, ternyata itu adalah sebuah kolam besar yang penuh dengan air tawar. Allahu Akbar! Allah telah menjawab doa mereka. Mereka pun minum dan mandi sepuasnya. Tak lama setelah matahari meninggi, unta-unta mereka yang tadi lari, kembali dengan sendirinya, lengkap dengan semua perbekalan utuh. Keimanan pasukan pun bertambah berkali-kali lipat.
Doa yang Menundukkan Lautan
Setelah sampai di Bahrain, Al-Ala’ berhasil mengalahkan pasukan murtad dalam pertempuran darat. Namun, sisa-sisa pasukan musuh yang dipimpin oleh al-Hutham melarikan diri dan menyeberang ke sebuah pulau bernama Darin. Kaum muslimin kini menghadapi masalah baru: mereka berada di tepi pantai, sementara musuh mereka aman di seberang lautan. Mereka tidak memiliki cukup perahu untuk menyeberangkan seluruh pasukan.
Sekali lagi, Al-Ala’ bin Al-Hadhrami bersandar pada kekuatan yang tak terbatas: kekuatan doa. Ia berjalan ke tepi pantai, diikuti oleh pasukannya. Ia kemudian berdoa, "Ya Allah Yang Maha Pemurah dan Penyayang, Ya Allah Yang Mahabijaksana dan Mulia, Ya Allah Yang Mahahidup dan Berdiri Sendiri... Kami hanyalah hamba-Mu dan kami sedang memerangi musuh-Mu. Tiada daya bagi kami kecuali Engkau. Mudahkanlah jalan kami untuk menyeberang!".
Setelah berdoa, ia memberi komando yang luar biasa, "Seberangilah lautan ini!". Dengan keyakinan penuh, Al-Ala’ memacu kudanya masuk ke dalam air, diikuti oleh seluruh pasukannya. Dan karomah agung pun terjadi. Mereka semua berjalan di atas air seolah-olah sedang berjalan di atas pasir yang dangkal. Diceritakan bahwa air laut itu bahkan tidak sampai membasahi telapak kaki unta mereka.
Musuh yang berada di pulau Darin melihat pemandangan ini dengan mata terbelalak. Mereka terkejut dan ketakutan melihat pasukan muslimin "berjalan" di atas laut. Moral mereka hancur seketika. Pertempuran pun dengan mudah dimenangkan oleh kaum muslimin, dan al-Hutham berhasil dibunuh.
Kisah Al-Ala’ bin Al-Hadhrami ini bukanlah dongeng. Ia tercatat dalam kitab-kitab sejarah sebagai bukti nyata bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil. Ia mengajarkan kita bahwa keshalihan, ketakwaan, dan doa yang tulus memiliki kekuatan untuk "menundukkan lautan" masalah dalam hidup kita. Saat kita merasa jalan di depan buntu dan terhalang oleh "lautan" kesulitan, jangan pernah lupakan senjata terkuat kita: doa.
Sumber : Kitab Al-Bidayah Wan Nihayah