Muslimahdaily - Pintu taubat Allah Subhanahu wa ta ala itu teramat luas, seluas langit dan bumi. Tak peduli seberapa kelam masa lalu seseorang, jika ia kembali dengan tulus, rahmat-Nya akan selalu menyambut. Salah satu kisah paling dramatis yang membuktikan hal ini datang dari hiruk pikuk Perang Riddah, kisah seorang yang pernah mengaku nabi, Thulaihah al-Asadi.
Thulaihah bukanlah orang sembarangan. Ia adalah seorang dukun dan tokoh terpandang dari kabilah Bani Asad dan Ghathafan. Setelah wafatnya Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam, ia memanfaatkan pengaruhnya untuk mendeklarasikan diri sebagai seorang nabi baru, sama seperti Musailamah al-Kadzdzab.
Banyak pengikut dari sukunya dan suku sekitarnya yang terpedaya dan bergabung dengannya. Pemberontakannya menjadi salah satu ancaman terbesar bagi keutuhan negara Islam yang baru saja dipimpin oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Untuk memadamkan api fitnah ini, sang Khalifah mengutus panglima terbaiknya, sang "Pedang Allah yang Terhunus," Khalid bin Walid. Khalid diperintahkan untuk menumpas Thulaihah terlebih dahulu sebelum bergerak ke target lainnya. Pasukan Khalid pun bergerak menuju sebuah tempat bernama Buzakhah, di mana Thulaihah dan para pengikutnya telah berkumpul.
Pertempuran pun tak terhindarkan. Di satu sisi, Khalid bin Walid bersama pasukan tauhid yang berjuang demi kalimatullah. Di sisi lain, Thulaihah bersama ribuan pengikutnya yang berjuang atas dasar kesukuan dan kepercayaan pada "wahyu" palsu. Diceritakan, saat pertempuran berkecamuk, Thulaihah duduk berselimut di tendanya, berpura-pura sedang menerima wahyu.
Para panglimanya, seperti Uyainah bin Hishn, berkali-kali mendatanginya saat pasukan mereka mulai terdesak. "Apakah Jibril telah datang kepadamu?" tanya Uyainah. Thulaihah hanya menjawab, "Belum". Ketika kekalahan sudah di depan mata dan pasukannya kocar-kacir, Uyainah menyadari bahwa ini semua hanyalah kebohongan. Ia pun berkata kepada kaumnya, "Demi Allah, Nabi dari Bani Hasyim, Muhammad, lebih aku cintai daripada Nabi dari Bani Asad. Aku akan meninggalkan orang ini!".
Melihat para pendukung utamanya meninggalkannya, Thulaihah sadar bahwa permainannya telah berakhir. Ia telah menyiapkan dua ekor kuda, satu untuknya dan satu untuk istrinya. Ketika pasukannya hancur lebur, ia segera melarikan diri menuju Syam. Khalid bin Walid dan pasukannya berhasil memenangkan pertempuran Buzakhah dengan gemilang.
Jalan Pulang Menuju Hidayah
Kisah Thulaihah bisa saja berakhir di sini, sebagai seorang pecundang yang lari dari medan perang. Namun, Allah berkehendak lain. Kekalahan telak di Buzakhah dan pelariannya ke Syam menjadi titik balik dalam hidupnya. Di negeri asing, jauh dari pengaruh dan para pengikutnya, ia merenungi kesalahannya. Hatinya mulai tersentuh kembali oleh cahaya Islam yang sejati.
Thulaihah akhirnya bertaubat dengan taubat yang sebenar-benarnya (taubatan nasuha). Ia melepaskan semua klaim kenabiannya dan kembali menjadi seorang muslim yang taat. Untuk membuktikan kesungguhan taubatnya, ia berangkat menuju Makkah untuk melaksanakan ibadah umrah pada masa kekhalifahan Abu Bakar. Namun, ia masih merasa malu untuk bertemu langsung dengan sang Khalifah.
Ketika Abu Bakar wafat dan Umar bin Al-Khaththab menjadi khalifah, Thulaihah memberanikan diri untuk datang ke Madinah dan berbai'at kepada Umar. Umar, yang terkenal tegas, menerima taubatnya namun memberinya sebuah nasihat yang menusuk, "Engkau adalah pembunuh Ukasyah dan Tsabit. Aku tidak akan pernah mencintaimu." Thulaihah dengan rendah hati menjawab, "Wahai Amirul Mukminin, mereka berdua adalah orang-orang yang dimuliakan Allah melalui tanganku, dan Allah tidak menghinakanku melalui tangan mereka. Aku memohon ampunan Allah."
Sejak saat itu, Thulaihah mendedikasikan sisa hidupnya untuk berjihad di jalan Allah. Ia menjadi seorang prajurit muslim yang gagah berani dalam penaklukan Persia, dan menunjukkan kehebatan yang luar biasa dalam pertempuran-pertempuran besar seperti Qadisiyah dan Nahawand, hingga akhirnya gugur sebagai syahid.
Kisah Thulaihah mengajarkan kita, Sista, sebuah pelajaran yang sangat berharga. Sebesar apapun dosa yang pernah kita lakukan bahkan dosa mengaku sebagai nabi pintu ampunan Allah tidak pernah tertutup bagi mereka yang mau kembali. Ia juga menunjukkan bahwa bukti taubat sejati adalah perubahan, yaitu meninggalkan masa lalu yang kelam dan menggantinya dengan amal shalih yang diridhai-Nya.