Muslimahdaily - Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, pada Senin (18/8/2025) secara resmi mengumumkan telah menerima proposal gencatan senjata terbaru yang diajukan oleh para mediator. Keputusan ini menjadi terobosan signifikan dan memicu harapan baru untuk mengakhiri agresi militer Israel yang telah berlangsung selama berbulan-bulan di Jalur Gaza.

Seorang pejabat senior Hamas mengonfirmasi kepada kantor berita Reuters bahwa mereka telah menyampaikan persetujuan atas proposal tersebut kepada mediator dari Mesir dan Qatar. Seorang pejabat Israel juga telah mengonfirmasi penerimaan draf kesepakatan tersebut, meskipun belum memberikan respons resmi.

Kabar ini datang di saat militer Israel terus menggempur Gaza City dan bersiap untuk melancarkan serangan darat yang lebih luas, sebuah tindakan yang telah memicu kecaman internasional dan protes besar di dalam negeri Israel sendiri.

Menurut sumber pejabat Mesir yang dikutip oleh Reuters, proposal yang disetujui Hamas mencakup kerangka kerja komprehensif yang bertujuan mengakhiri perang. Poin-poin utamanya adalah:

  • Gencatan Senjata Awal: Penghentian operasi militer selama 60 hari.

  • Pertukaran Bertahap: Selama periode ini, akan dilakukan pertukaran separuh dari sisa sandera Israel yang ditahan di Gaza dengan sejumlah tahanan Palestina yang berada di penjara-penjara Israel.

Proposal ini dilaporkan hampir identik dengan draf yang sebelumnya telah disetujui oleh pihak Israel, yang meningkatkan optimisme bahwa kesepakatan akhirnya dapat tercapai.

Meskipun pejabat Hamas telah memberikan konfirmasi, bola kini berada sepenuhnya di tangan pemerintah Israel. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menghadapi tekanan kuat dari dua sisi: dari keluarga sandera dan kelompok anti-perang yang menuntutnya untuk segera menyetujui kesepakatan, serta dari faksi ultranasionalis di dalam koalisinya yang menolak kompromi apa pun dengan Hamas.

Seluruh mata dunia kini tertuju pada respons resmi Israel. Penerimaan kesepakatan ini akan menandai langkah paling konkret menuju perdamaian dalam beberapa bulan terakhir, yang berpotensi menyelamatkan ribuan nyawa warga sipil dan mengakhiri krisis kemanusiaan yang parah di Gaza.