Muslimahdaily - Penampilan adalah cerminan diri. Dalam Islam, merawat penampilan, terutama rambut, adalah bagian dari menjaga fitrah dan mensyukuri nikmat Allah. Dan teladan terbaik dalam hal ini, tentu saja, adalah Rasulullah Muhammad Shalallahu alaihi wassalam. Penampilan rambut beliau bukanlah tentang kemewahan, melainkan tentang kerapian, kebersihan, dan kesederhanaan yang justru memancarkan pesona dan wibawa.

Bagaimana para sahabat mendeskripsikan rambut manusia termulia ini? Mari kita simak fakta-fakta menawan yang terangkum dalam kitab Asy-Syama'il Al-Muhammadiyyah.

Salah satu ciri yang paling sering disebut oleh para sahabat adalah tekstur rambut beliau yang sangat ideal. Anas bin Malik meriwayatkan bahwa rambut Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam tidak terlalu keriting, tidak pula lurus kaku. Deskripsi ini juga dikuatkan oleh hadis dari Aisyah RA. Rambut beliau digambarkan sebagai rajilan, atau ikal bergelombang yang indah secara alami. Ini menunjukkan sebuah kesempurnaan dalam penciptaan, seimbang dan enak dipandang.

Panjang rambut Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam tidak selalu sama, menunjukkan fleksibilitas dalam penampilan beliau. Para sahabat meriwayatkan beberapa ukuran panjang dalam waktu yang berbeda:

Hingga Pertengahan Telinga: Dalam sebuah riwayat, Anas bin Malik menyebutkan bahwa rambut beliau mencapai pertengahan kedua telinganya.

Menyentuh Daun Telinga: Riwayat lain dari Al-Bara' bin Azib menyebutkan rambutnya menyentuh kedua daun telinganya.

Antara Telinga dan Bahu: Aisyah RA memberikan gambaran yang lebih detail, bahwa rambut beliau panjangnya tidak sampai menyentuh pundak, namun juga tidak terlalu pendek hingga di atas daun telinga.

Dari riwayat-riwayat ini, para ulama menyimpulkan bahwa panjang rambut beliau bervariasi, terkadang dipotong hingga sebatas telinga, dan terkadang dibiarkan memanjang hingga hampir menyentuh bahu.

Awalnya, Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam membiarkan rambutnya tergerai (tidak dibelah), sebagai pembeda dari kaum musyrik dan meniru kebiasaan Ahli Kitab selama belum ada wahyu tentang itu. Namun, kemudian beliau selalu merapikan rambutnya, yang dipahami oleh para ulama sebagai kebiasaan membelah rambutnya (biasanya belah tengah).

Yang paling menarik adalah ketika momen-momen khusus. Ummu Hani' binti Abu Thalib meriwayatkan bahwa saat Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam tiba di Mekkah pada peristiwa Fathu Makkah, rambut beliau dijalin menjadi empat kelabang (kepang). Ini menunjukkan bahwa menata rambut dengan cara dijalin atau dikepang adalah hal yang pernah dilakukan oleh Rasulullah, terutama saat dalam perjalanan atau kondisi tertentu agar lebih praktis dan rapi.

Mempelajari cara Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam merawat rambutnya mengajarkan kita tentang pentingnya menjaga penampilan yang bersih, rapi, dan tidak berlebihan. Sebuah sunnah sederhana yang bisa kita amalkan sebagai wujud cinta kita kepada beliau.