Muslimahdaily - Di kedalaman renungan spiritual, sebuah pertanyaan fundamental seringkali muncul: sebelum alam semesta dengan segala isinya ini ada, apa yang Allah ciptakan pertama kali? Ini bukanlah sekadar rasa ingin tahu, melainkan sebuah gerbang untuk memahami keagungan Sang Pencipta dan keluasan ilmu-Nya.

Pertanyaan ini, ternyata, telah menjadi topik pembahasan intelektual yang mendalam di kalangan para raksasa keilmuan Islam selama berabad-abad. Dalam kitabnya yang legendaris, Al-Bidayah wan Nihayah (Permulaan dan Akhir), Imam Ibnu Katsir memetakan berbagai pandangan ulama mengenai makhluk pertama. Menariknya, tidak ada jawaban tunggal yang dipaksakan, melainkan sebuah mozaik pandangan yang masing-masing berpijak pada dalil yang kokoh.

Mari kita selami kekayaan khazanah ini, bukan untuk mencari siapa yang "paling benar", tetapi untuk memetik hikmah dan menumbuhkan kekaguman pada tradisi intelektual agama kita.

Tiga Pandangan Utama tentang Ciptaan Pertama

Setiap pendapat yang muncul dari para ulama didasarkan pada analisis teks Al-Qur'an dan Hadis yang cermat, menunjukkan betapa seriusnya mereka dalam menjaga kemurnian argumen.

1. Pendapat Mayoritas Ulama: 'Arasy (Singgasana) Allah Telah Ada Terlebih Dahulu

Ini adalah pandangan yang dipegang oleh mayoritas (jumhur) ulama. Mereka berkeyakinan bahwa 'Arasy Allah-lah yang diciptakan sebelum segala sesuatu yang lain. Landasan utamanya adalah sebuah hadis shahih yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu anhu:

Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda: "Allah telah mencatat takdir seluruh makhluk 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi." Beliau menambahkan, "Dan 'Arasy-Nya (saat itu) telah berada di atas air." (HR. Muslim)

Logika yang dibangun dari hadis ini sangat kuat. Jika pada saat takdir dicatat (oleh Pena), 'Arasy Allah sudah eksis di atas air, maka secara kronologis 'Arasy dan Air pastilah diciptakan terlebih dahulu sebelum proses pencatatan takdir itu sendiri.

2. Pendapat Kedua: Al-Qalam (Pena) Sebagai Titik Awal Pencatatan

Di sisi lain, sebagian ulama, termasuk Ibnu Jarir, berpendapat bahwa Al-Qalam (Pena) adalah makhluk yang pertama kali Allah ciptakan. Argumen ini bersandar pada hadis shahih yang tak kalah kuat dari Ubadah bin Shamit RA:

Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda: "Sesungguhnya yang pertama kali Allah ciptakan adalah Al-Qalam (Pena), lalu Dia berfirman kepadanya, 'Tulislah!' Maka sejak saat itu, berlakulah (tercatatlah) apa saja yang akan terjadi hingga hari Kiamat." (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi)

Menurut pandangan ini, penetapan takdir adalah fondasi dari segala penciptaan. Maka, perintah kepada Pena untuk menulis seluruh ketetapan di Lauhul Mahfuzh menjadi gerbang pembuka dari semua episode penciptaan. Para ulama yang mendukung pendapat pertama biasanya mengompromikan hadis ini dengan menyatakan bahwa Pena adalah "ciptaan pertama dari alam semesta ini", yakni setelah eksistensi 'Arasy dan Air.

3. Pendapat Ketiga: Air Sebagai Materi Fundamental

Ada pula pandangan yang menyebut bahwa Air adalah elemen pertama yang ada, bahkan sebelum 'Arasy. Ini didasarkan pada beberapa riwayat (atsar) dari sahabat, seperti Ibnu Mas'ud Radhiyallahu anhu, yang menyatakan:

"Sesungguhnya Allah, 'Arasy-Nya berada di atas air, dan Dia tidak menciptakan sesuatu pun sebelum air."

Pandangan ini menempatkan air sebagai materi purba yang menjadi fondasi bagi penciptaan selanjutnya.

Alih-alih membuat bingung, perbedaan pendapat ini justru menyajikan pelajaran spiritual dan intelektual yang sangat berharga bagi kita.

  • Menghargai Tradisi Intelektual Islam: Diskursus ini adalah bukti nyata betapa cermat dan telitinya para ulama dalam menggali dalil. Mereka mendedikasikan hidup untuk memahami firman Allah dan sabda Rasul-Nya, melahirkan sebuah tradisi keilmuan yang kaya dan dinamis.

  • Fokus pada Substansi Akidah: Terlepas dari mana yang lebih dulu diciptakan, semua pendapat bermuara pada satu hakikat yang sama: Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah Al-Khaliq, Sang Maha Pencipta. Dialah yang memulai segalanya dari ketiadaan, mengatur seluruhnya dengan kebijaksanaan-Nya, dan semua berjalan mutlak atas kehendak-Nya. Inilah inti tauhid yang harus senantiasa kita pegang.

  • Menumbuhkan Kerendahan Hati: Keberagaman pandangan ini menyadarkan kita bahwa ada wilayah gaib yang ilmunya hanya ada di sisi Allah. Tugas kita adalah beriman pada dalil yang sampai kepada kita, sembari bersikap rendah hati (tawadhu') bahwa pengetahuan kita sangat terbatas di hadapan samudra ilmu-Nya.

Pada akhirnya, merenungkan tentang ciptaan pertama bukanlah sekadar menjawab teka-teki kosmologis. Ini adalah sebuah perjalanan untuk semakin mengagumi Dia yang tidak berawal dan tidak berakhir, Dia yang menciptakan waktu, ruang, dan segala sesuatu yang ada di antaranya.