Muslimahdaily - Di tengah memburuknya krisis kemanusiaan di Gaza, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memimpin langsung pertemuan tingkat tinggi di Gedung Putih pada hari Rabu (27/8/2025). Pertemuan ini bertujuan untuk membahas situasi terkini dan merumuskan apa yang disebut sebagai "rencana komprehensif" untuk Gaza.
Pertemuan darurat ini digelar seiring meningkatnya tekanan internasional terhadap Israel terkait serangan yang terus berlanjut dan kondisi kelaparan yang meluas di wilayah kantong Palestina tersebut. Gambar-gambar anak-anak dan warga sipil yang menderita akibat kekurangan pangan telah memicu kecaman keras dari berbagai penjuru dunia.
Menurut Utusan Khusus AS, Steve Witkoff, pertemuan ini merupakan langkah serius pemerintahan Trump untuk mencari solusi konflik.
"Kami pikir kami akan menyelesaikan ini dengan satu atau lain cara, setidaknya sebelum akhir tahun ini," ujar Witkoff dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh The Guardian, mengindikasikan adanya target waktu dari pihak AS.
Berbeda dari pendekatan sebelumnya, laporan tersebut juga menyebutkan bahwa agenda utama pertemuan kali ini berfokus pada pembahasan "hari setelahnya" atau skenario pengelolaan Gaza pascaperang. Hal ini menandakan kemungkinan adanya perubahan strategi dari pemerintahan AS dalam menyikapi konflik yang telah berlangsung lama.
Meski detail mengenai "rencana komprehensif" tersebut belum diungkapkan secara rinci, Witkoff menyebutkan bahwa Washington sedang menyusun sebuah kerangka kerja yang detail. Belum ada informasi apakah perwakilan dari Palestina dilibatkan dalam diskusi internal Gedung Putih ini.
Pemerintahan Trump, yang memasuki bulan ketujuh masa jabatannya, sebelumnya berkampanye dengan janji untuk menyelesaikan perang Gaza secara cepat. Namun, tujuan tersebut hingga kini masih belum tercapai.
Pertemuan di Washington ini berlangsung di saat situasi di Gaza dilaporkan semakin tegang. Mengutip kantor berita Reuters, pasukan Israel terus maju ke area baru di Kota Gaza.
Serangan militer Israel ke Gaza sejak Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 62.000 warga Palestina, menurut data otoritas kesehatan Gaza. Konflik ini juga telah menyebabkan seluruh populasi di wilayah tersebut mengungsi, memicu krisis kelaparan akut, dan membawa Israel ke hadapan Mahkamah Internasional atas tuduhan genosida.