Shafiyyah binti Huyay Istri Rasulullah, Putri Pemuka Yahudi

Muslimahdaily - Shafiyyah binti Huyay Radhiyallahu 'Anha adalah Ummul Mukminin yang lahir dari keturunan yahudi, ayahnya bernama Huyay bin Akhtab adalah seorang pemuka yahudi yang menyembunyikan kebenaran Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan Islam kepada kaumnya yakni Bani Quraizah dan Nadhir. Huyay bin Akhtab pun menyusupkan kebencian pada Rasulullah bahkan merencanakan untuk membunuhnya, namun ia tak pernah berhasil, bahkan dirinyalah yang dibunuh oleh kaum muslimin atas kekafiranya.

Pada mulanya, Shafiyyah adalah tawanan perang Khaibar dari perempuan-perempuan yahudi yang dimerdekakan, kemudian dinikahi oleh Rasulullah untuk menghormatinya karena Shafiyyah seorang putri dari pemimpin Bani Quraizah dan Nadhir. Sungguh, kasih sayang Rasulullah bertebaran untuk orang-orang sekelilingnya. Walimah yang diadakan penuh dengan kesederhanaan yang penuh keberkahan, kemerdekaan Shafiyyah sebagai maharnya yang kala itu ia masih berusia 17 tahun. Rasulullah menikahinya di dalam perjalanan pulang menuju Madinah setelah perang Khaibar.

Penduduk kota Madinah yang mendapatkan kabar atas kemenangan kaum muslimin. Mereka menyambut kedatangan Rasulullah, kebahagiaan menyusup ke dalam dada mereka, anak-anak pun berlari-lari riang, sedang para kaum munafik menampakan wajah senang namun kebencian menyesakan dadanya.

Setibanya di Madinah, Shafiyyah tinggal di rumah sahabat Haritsah bin Nu’man Al-Anshari. Kehadiran Shafiyyah sebagai Ummul Mukminin pun menimbulkan kecemburuan bagi istri Rasul Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang lain, bahkan beberapa ungkapan yang kurang baik pun terucap.

Shafiyyah pernah mendengar berita bahwa Hafshah berkata bahwa “Dia (Shafiyyah) itu anak seorang Yahudi”. Sungguh perkataan Hafshah mengiris hatinya, walau memang benar adanya. Rasulullah pun mengibur Shafiyyah dengan mengatakan bahwa “ Engkau adalah keturunan Nabi, Pamanmu adalah Nabi, dan suamimu adalah Nabi”.

Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab bin Sa’yah yang berasal dari keturunan Law bin Isra’il (Nabi Yakub) bin Ishaq bin Ibrahim 'Alaihissalaam. Meskipun demikian, cahaya Islam telah terpatri kuat di dalam dada nya, syariat agama Allah telah menemani jiwanya, raganya tak pernah lengah dari perintahNya.

Menurut Al-Hafizh Abu Nu’aim, Shafiyyah adalah seorang yang bertakwa, bersih, dan matanya selalu basah karena menangis. Ibnu Katsir menuturkan bahwa Shafiyyah adalah seorang yang sangat menonjol dalam ibadah, kewa’raan, kezuhudan, kebaikan, dan shadaqah. Ia juga seorang istri yang penuh ketulusan dan kejujuran dalam mahligai hidup bersama Rasulullah, bahkan ketika Rasulullah sakit, Shafiyyah berkata, “Waha Nabi, sesunggunya aku lebih senang jika penyakit yang dideritamu itu pindah ke tubuhku”.

Selain itu, ia pandai memberikan kesan kepada orang-orang yang baru dikenalnya, seperti kepada putri Rasulullah Fatimah Az-Zahra, Shafyyah memberikan anting-anting emas yang terpasang di kedua telinganya. Selepas kepergian Rasulullah, hatinya semakin menunjukkan ketakwaan kepada Allah. Ia pernah berkata bahwa ia selalu ingin melihat kebahagiaan orang lain. Terlihat ketika Ustman bin Affan Radhiyallahu 'Anhu mendapatkan tekanan dari orang-orang dzalim, Shafiyyah senantiasa mengirimkan makanan dan minuman untuknya.

Selama hidupnya dihabiskan dengan penuh ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala hingga ajal menjemputnya untuk menghembuskan napas terakhir pada tahun 50 hijriah, sekitar 40 tahun setelah Rasulullah wafat. Shafiyyah, meninggalkan kita wahai para muslimah dengan kesempurnaan imanya, hingga ia menjadi Ummul Mukminin yang patut kita teladani. 

Last modified on Friday, 20 May 2016 08:07

Leave a comment

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.

© 2018 Muslimahdaily.com All Rights Reserved. Part Of Genmediautama