Ini Cara Rasulullah Menyambut Ramadhan

By May 16, 2018 0
Ilustrasi Ilustrasi

Muslimahdaily - Rasulullah menyambut Ramadhan dengan penuh suka cita lagi banyak persiapan. Beliau Shallallahu‘alaihi wa sallam mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin dalam menyambut bulan terbaik. Bagaimana cara Rasulullah mempersiapkan bulan suci?

Beliau mempersiapkan diri baik raga maupun jiwa. Persiapan raga yang Rasulullah lakukan yakni dengan membiasakan tubuh dengan berpuasa. Setiap bulan, Rasulullah terbiasa melakukan puasa Senin-Kamis dan Yaumul Bidh. Namun ketika telah mendekati bulan mulia, yakni di Bulan Sya’ban, Rasulullah makin giat lagi berpuasa.

Dari Aisyah, ia berkata, “Saya sama sekali belum pernah melihat Rasulullah berpuasa dalam satu bulan sebanyak puasa yang beliau lakukan di bulan Sya’ban, di dalamnya beliau berpuasa sebulan penuh.” Dalam riwayat lain, “Beliau berpuasa di bulan Sya’ban, kecuali sedikit hari.” (HR. Muslim).

Dari Usamah bin Ziyad, ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, Aku tidak melihatmu banyak berpuasa seperti di bulan Sya’ban?’ Beliau menjawab, ‘Sya’ban adalah bulan yang dilupakan manusia, letaknya antara Rajab dan Ramadhan. Di bulan tersebut amal manusia diangkat (ke langit) oleh Allah SWT dan aku menyukai pada saat amal diangkat aku dalam keadaan berpuasa’.” (HR. An Nasa’i).

Adapun persiapan jiwa, Rasulullah memperbanyak ibadah baik kuantitas maupun kualitas. Termasuk di dalamnya yakni memperbanyak doa dan memperbarui taubat. Beliau selalu memohon ampun minimal 100 kali setiap hari.

Nabiyullah pula selalu menunaikan tahajud setiap malamnya. Itu di hari biasa. Saat mendekati Ramadhan, yakni di Bulan Sya’ban, Rasulullah melakukan segala amalan biasa menjadi luar biasa. Sang utusan Allah meningkatkan dan menambah ibadah yang biasa beliau lakukan.

Segala persiapan yang dilakukan Rasulullah ibarat kerja keras sebelum persiapan memanen di Bulan Ramadhan. Inilah waktu puncak dalam ibadah selama satu tahun. Tentu masa puncak dan masa memanen sangat sayang untuk dilewatkan tanpa persiapan matang.

Para shahabat Rasulullah juga meniru persiapan yang dilakukan sang uswatun Hasanah. Mereka giat berpuasa, meningkatkan rutinitas ibadah, serta giat berdoa.

Sebagaimana disebut dalam Lathaaiful Ma’arif, ”Mereka (para sahabat) berdo’a kepada Allah selama enam bulan agar mereka dapat menjumpai bulan Ramadlan.”

Sedari enam bulan, mereka merindukan dan menanti Bulan Ramadhan. Itulah yang diajarkan Rasulullah kepada shahabat beliau. Kebiasaan generasi awal Islam pun dilakukan para tabi’in dan ulama yang mengikuti mereka. tengoklah beberapa ucapan ulama tentang persiapan Ramadhan yang mencocoki Rasulullah dalam menyambut Ramadhan.

Abu Bakr Al Warraq Al Balkhi berkata, “Rajab adalah bulan untuk menanam, Sya’ban adalah bulan untuk mengairi dan Ramadhan adalah bulan untuk memanen.” Dalam Lathaaiful Ma’arif juga disebutkan ucapan para ulama,

“Waktu setahun itu laksana sebuah pohon. Bulan Rajab adalah waktu menumbuhkan daun, Syaban adalah waktu untuk menumbuhkan dahan, dan Ramadhan adalah bulan memanen, pemanennya adalah kaum mukminin. (Oleh karena itu), mereka yang “menghitamkan” catatan amal mereka hendaklah bergegas “memutihkannya” dengan taubat di bulan-bulan ini, sedang mereka yang telah menghabiskan umurnya dalam kelalaian, hendaklah memanfaatkan sisa umur sebaik-baiknya (dengan mengerjakan ketaatan) di waktu tersebut.”

Jangan Lupa Bertaubat

Tersisa beberapa hari saja hingga Bulan Ramadhan yang dinanti itu tiba. Jika sudah terlewat persiapan dan luput melakukannya sebagaimana yang dilakukan Rasulullah, maka kejarlah dengan perbanyak ibadah di hari-hari terakhir Bulan Sya’ban ini. Jangan lupakan pula untuk melakukan taubat.

Allah berfirman, “Bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An Nuur: 31). Rasulullah juga pernah bersabda, “Setiap keturunan Adam itu banyak melakukan dosa dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi).

Perbanyaklah istigfar dan perbarui taubat. Lakukan dengan ikhlas dan taubatan nashuha. Lalu azamkan pada diri untuk tidak mengulangi dosa yang telah dilakukan. Sambutlah bulan suci dengan diri yang suci dari dosa dan maksiat. Wallahu a’lam.

Sumber: muslim.or.id, khazanah republika.com

Leave a comment

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.

© 2018 Muslimahdaily.com All Rights Reserved. Part Of Genmediautama